KEMARIN, Rabul (30/09/2009) anggota DPRA hasil Pemilu tanggal 9 April 2009 dilantik Mendagri atasnama Presiden RI. Peraih suara mayoritas adalah Partai Aceh (PA). Partai lokal lainnya seperti Partai PAAS, SIRA, PRA, PBA, dan PDA kalah telak. Mereka semua ikhlas menghormati kehendak rakyat Aceh sebagaimana adanya. Partai Aceh (PA) meraih suara hampir 50 persen kursi, atau 33 kursi dari 69 kursi DPRA yang diperebutkan. Selebihnya suara diraih oleh partai nasional, seperti partai Demokrat 10 kursi, Golkar 8 kursi, PAN 5 kursi, PKS 4 kursi, PPP 4 kursi, PKPI 1 kursi, Patriot 1 kursi, PBB 1 kursi, PKB 1 kursi, dan satu lagi partai lokal (PDA) memperoleh 1 kursi. Yang terpilih adalah yang terbaik untuk diserahkan amanah. Yang terpilih bukanlah matarantai yang terputus. Mereka bagian dari pejuang perdamaian, juga bagian integral dari lintasan sejarah perjuangan rakyat Aceh.
Gendrang Pemilu legislatif sudah usai ditabuh. Gendrang itu sudah berbunyi dengan irama yang cukup demokratis, tanpa ada yang terluka, khususnya di Aceh. KIP Aceh pantas diacungkan jempol. Kalaupun ada yang khilaf di sana-sini, bak piring retak dalam pesta akbar, semuanya sudah diluruskan kembali oleh Mahkamah Konstitusi. Maka tepat, kita anggap pelantikan anggota DPRA kemarin, sebagai hari pertamal ditiupkan “sangkakala kehidupan kembali untuk pembangunan Aceh” yang sudah lama terkubur di alam barzah politik Orde Baru. Penanda era yaumul hisap yang adil, yang arif dalam bertindak, yang bijak dalam memimpin. Karenanya, pimpinlah kami menuju jalan ke surga dunia yang aman, damai, dan sejahtera. Jangan lagi kami ini dipaksa ke jalan yang salah, akhirnya membuat dunia ini menjadi neraka jahannam yang penuh azab dan penderitaan.
Lihatlah, kilas balik sistem yang sia-sia dan menyesali kita semua; Dulu ada yang menyebut demokrasi terpimpin itu benar, tapi akhirnya tidak benar juga. Dulu ada yang bilang demokrasi liberal itu yang terbaik, tapi kemudian juga dihapuskan. Dulu, kita semua dihalau ke ruang kelas penataran P4, katanya demi demokrasi Pancasila, demi perikemanusiaan yang adil dan beradab, tetapi kemudian P4 dihapuskan, dan pada era itu di negeri ini terjadi pertumpahan darah di mana-mana, teror dan pembantaian tak pernah mereda. Bukan hanya di Aceh, juga di Poso, di Ambon, di Papua, dan di Jawa sendiri muncul pemberontakan yang dipimpin oleh Kartosuwiryo pada tahun 1953.
Itu sebab, pelantikan DPR Aceh kali ini sangat bergema. Gema itu pasti sangat amat keras, dan kami yakin bunyinya pasti terdengar hingga ke Swedia, ke Helsinki, ke seluruh negara anggota Uni Eropa, ke Arab Saudi, Timur Tengah, Libiya, Australia, Amerika, dan juga bergetar di tanah jiran kita Malaysia. Mengapa? Karena ada suatu yang besar di sana, ada pengaruh yang mendunia pada peristiwa itu, dan karena yang dilantik itu, sebagian besar adalah para pelaku sejarah (pembawa perubahan) besar, hampir sama dengan “baby boom” yang disebut anak-anak veteran pejuang perang oleh JF. Kennedy.
Gema dan peristiwa menggetarkan ini, pernah terjadi ketika pelantikan Abraham Lincoln dan John F. Kennedy tempo dulu, seperti yang disebut oleh John A. Barnes, penulis buku John F. Kennedy On Leadership,2007). Katanya, kedua mantan presiden negeri adidaya itu memang tokoh-tokoh terkenal di pentas politik dunia, baik di kawasan Eropa maupun di anak benua lainnya. Nama-nama besar itu, setiap saat memang ditunggu oleh masa sebagai anak zaman, juga ditunggu oleh media karena simbol pembawa perubahan besar. Kata Barnes lagi, walaupun undangan informasi itu dipikulkan di punggung kuda yang mengantar ke pelosok negeri, hatta harus menyeberangi sungai dan danau yang luas dengan kapal tongkang untuk menyampaikan berita ini. Orang-orang pasti tersentak untuk mengikutinya. Apalagi waktu pelantikan presiden Barack Obama di abad 21 ini, abad globalisasi, melalui rekayasa teknologi informasi yang cukup canggih seperti TV, Radio, internet, surat kabar dalam dan luar negeri akan menghentak umat manusia untuk ikut terlibat menyaksikan upacara yang paling bersejarah itu. Tak usah heran, jika petani gandum di Berlin pun bisa ikut mendengar, menonton, dan melibatkan emosi nya secara serentak bersama-sama dengan saudaranya yang tinggal di Mahe’eng (sebuah desa kumuh yang sangat tertinggal namun disayangi oleh Tgk. Irwandi Yusuf sebelum menjadi Gubernur Aceh).
Mengapa ilustrasi DPRA kali ini begitu hebat? Karena ada sesuatu yang kita tunggu-tunggu, yaitu suatu perubahan yang mendasar dalam segala bidang kehidupan di Aceh. Bukan kita yang rakyat saja, tapi gubernur Irwandi pun begitu antusias menanti tibanya hari bagi yang terpilih. Meskipun pelantikan sudah di ujung tahun, tapi masih banyak yang bisa dikerjakan DPRA bersama pemerintah Aceh untuk dua tahun ke depan. Momentum pembahasan RAPBA tahun 2010, RAPBA tahun 2011 dan mungkin juga RAPBA tahun 2012. Mulailah dengan karya-karya besar yang monumental.
Kemajuan yang teungku lihat masa dahulu ketika teungku-teungku di pengasingan di Eropa, Amerika, Australia, Malaysia, Singapura, Timur Tengah, Libya, dan lian-lain, rakyat Aceh meminta teungku wujudkan di sini. Misalnya, pembangunan infrastruktur yang hebat, jaminan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, pembangunan ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup dan pendapatan, bantuan sosial untuk anak-anak veteran perang, fakir miskin dan anak terlantar, serta pelaksanaan syari’at Islam dengan cara yang sebaik-baiknya. Harapan kami, mulailah dengan mempersiapkan keluarga anda, relasi dan koneksi anda, agar mereka selalu berdoa dan banyak membantu, bersikap sabar dan kana’ah, serta tidak berharap kaya mendadak. Rakyat pasti gembira, berdo’a dan juga membantu anda, sambil menunggu lahirnya karya besar anda dalam dua tahun pertama ini. Pelantikan teungku-teungku yang terpilih, anggaplah “seurunee kalee umat” yang mengisyaratkan akan terjadi perubahan besar di Aceh. Berikanlah keadilan, kesamaan, dan kesetaraan untuk semua warga, dan katakan keistimewaan itu tidak untuk siapa siapa.
Dan kado kami ini, adalah tanda rasa bahagia, ucapan selamat untuk mulai bekerja. Rakyat tahu beban tugas dan tanggungjawab Anda semakin berat. Banyak hari-hari untuk keluarga akan tersita, banyak telpon dari sahabat yang anda jawab dengan kata maaf saya lagi rapat. Tapi betapapun anda sibuk, jangan dilupakan juga anda akan kembali menjadi pelajar yang serius membaca segala aturan, penulis pidato anda sendiri, perumus pendapat dan aspirasi daerah pemilihan yang anda wakili, dan menjadi pejuang kebijakan baru untuk skala Aceh. Kalau ada staf ahli hanyalah membantu anda, dan tidak lebih dari itu. Staf ahli tidak diharapkan oleh pemilih anda untuk bertanggungjawab pada apa yang anda perjuangankan sebagai senator atau anggota parlemen Aceh. Tapi kehadiran staf ahli itu sangat penting untuk membantu anda; kata Theodore Sorensen, ketua tim penulis naskah pidato presiden JF.Kennedy yang dikagumi kehebatannya hingga saat ini.
Hanya sedikit imbalan materi (kalau ada) yang bisa anda peroleh berupa gaji, honor, uang representatif, tunjangan kesehatan, dan lain-lain yang anda terima. Dikatakan sedikit dibandingkan dengan nilai perubahan besar, gagasan besar, kebijakan pembangunan yang besar yang anda perjuangan, jika itu ada. Imbalan yang sedikit itu pun harus anda berbagi lagi dengan partai yang mencalonkan anda. Jangankan berharap bisa anda sumbangkan uang kepada rakyat, para pemilih anda sekalipun, untuk anak dan keluarga anda sendiri antara ada dan tidak ada. Kecuali anda merobah karakter dari mental politisi pejuang berkualitas tinggi, jujur dan amanah, menjadi politisi berkualitas rendah, bermoral hazard, tamak, penjilat proyek atau pemburu uang dan harta selagi ada kesempatan. Maha Besar kasih sayang Allah Swt, kami do’akan semoga anda semua Allah lindungi dari sifat-sifat tercela.
Rakyat berharap agar anda merumuskan kebijakan, aturan, Qanun, dan pendapat-pendapat anda yang mensejahterakan kami dan anak-anak kami di negeri ini. Bagaimana caranya; kami coba kutip pesan mantan presiden Amerika, John F Kennedy kepada politisi, utamanya kepada kaum “baby boom” untuk selalu berusaha dengan sungguh-sungguh mendapatkan idea-idea baru dari keluarga anda, sahabat sahabat anda, para penasehat anda, tim ahli anda, dan juga pembantu anda, baik melalui jalur formal maupun informal. Kita juga harus memiliki jaringan dengan orang yang sukses, atau yang memiliki kiat dan cerita sukses (Sucses Story) para pemimpin pemerintahan, politisi, atau birokrat profesional dahulu yang mengantarkan kemajuan bagi suatu bangsa yang telah maju, baik pada skala nasional maupun global.
Mungkin, pengalaman pergaulan dengan masyarakat dunia pasca musibah gempa bumi dan tsunami, ketika bangsa-bansa di dunia datang membantu Aceh, hikmah pergaulan itu cukup membantu kita untuk membuka jalan baru agar Aceh memasuki arena pergaulan dunia internasional. Baby boom, adalah istilah Kennedy untuk kawan-kawan generasinya (anak-anak mereka) yang dilahirkan dan dibesarkan dalam kancah perang, kemudian pada hari ini, dalam masa damai, mereka telah menjadi pemimpin pemerintahan atas dasar pilihan rakyat yang sah. Kennedy sendiri cukup dikenal rasa bangganya atas predikat sebagai anak pahlawan-pejuang perang dan membangun reputasi dirinya, bahwa ia dan keluarganya, meskipun kaya raya, tetapi dididik untuk tidak boleh menghindari perang demi membela tanah air dan kehormatan bangsanya. Inspirasi itu, perlu juga kita bangun di Aceh. Semangat tidak melarikan diri dari kewajiban dan tanggungjawab perang, harus tetap hidup meski hari ini Aceh dalam suasana damai.
Rakyat tidak banyak menuntut. Mereka meminta kebijakan yang terumuskan dalam Qanun Aceh, yang isinya menjanjikan rahmat dan kesejahteraan, kehidupan yang adil dan damai. Tersedianya fasilitas dan sarana untuk dapat hidup sejahtera, adanya infrastruktur yang berkualitas terbaik, layanan pendidikan dan kesehatan yang murah dan berkulitas tinggi, ekonomi rakyat yang makin mempertinggi taraf hidup, bantuan sosial yang bermartabat, serta tegaknya syariat Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin. Seperti amanat anggaran Otsus dan TDBH Migas.
Kalau mau dibuka kembali dokumen staf ahli Gubernur, di sana ada usulan (alm) Prof. Dr. Abdullah Ali, MSc (mantan Rektor Unsyiah) yang dikirim kepada BRR. Beliau meminta BRR agar di samping membangun perumahan untuk rakyat yang sangat mendesak, juga diharapkan agar BRR tidak boleh lupa membangun beberapa hal penting dan strategis untuk rakyat Aceh seperti; membangun irigasi modern, karena 80 % lebih rakyat Aceh hidup sebagai petani di sawah. Berikutnya jaringan air bersih (PAM) yang sehat, karena Aceh memiliki beberapa sungai besar yang memungkinkan persedian debet air yang cukup. Pusat pembangkit energi listrik (PLTA, PLTU, PLTD) sehingga krisis energi listrik di Aceh sejak Indonesia merdeka dapat segera diatasi. Berikutnya sarana dan jaringan tranportasi modern bertaraf dunia yang meliputi darat, laut dan udara untuk mendukung aktivitas ekonomi rakyat lintas kab/kota, lintas provinsi, dan juga lintas negara. Apakah mungkin ?, rakyat biasa masih yakin dan percaya kepada anda yang terpilih.KITA lihat untuk kedepan...............
Rabu, 30 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar