Rabu, 30 September 2009

DONGENG PENDIDIKAN ACEH

MAU dengar dongeng pendidikan Aceh? Simak saja ringkih keluh anak-anak “lolos” alias tak terjaring di SNMPTN yang diumumkan lewat koran kemarin. Ironinya lagi, ranking secara nasional berada di urutan 33 (nomor 2 dari belakang) setelah Papua. Nervous, sebagai prestise mengagumkan dalam sejarah pendidikan di Aceh. Cuma bila dipandang dalam terminologi agama, termasuk katagori “terkutuk” karena mutu sekarang lebih buruk dari sebelumnya.

Siapa yang hendak kita tuding atas dosa generasi ini? Saya katakan terpundak pada lembaga teknis (dinas pendidikan) dan sekolah . Kecuali itu, kita orangtua pun selalu “menghitam-putihkan” pendidikan anak-anak kepada sekolah. Apalagi ada sikap sebagian orangtua yang bila anaknya berhasil, berdalih karena sianak memang pintar sendiri. Namun jika anaknya bodoh, gurulah yang bersalah. Ternyata, banyak orangtua kurang menghargai jasa guru. Lain lagi, lembaga teknis pendidikan (saya tak berani menyebut Dinas) sangat kurang apresiasi atas kedaulatan guru selama ini. Guru sendiri pun masih menganggap pekerjaannya adalah sekedar makan gaji. Guru hanya melakukan proses KBM sekedar kewajiban, belum menjadi kebajikan. Guru masih sering bersikap bukan mengajar anak-anak justru menghajarnya bertambah kurang ajar. Guru belum memposisikan diri sebagai pendidik di sekolah, tapi cenderung menjadi penyidik dengan wajah menyeramkan.

Sekarang buah dari proses pendidikan yang dilakonkan itu sudah kita lihat nyata. Sistem yang dibangun para pengelola teknis pendidikan hanya sekedar menargetkan prestise sudah terindikasi. Lihat saja anak-anak lulusan SMA di Aceh yang berhasil lulus UMB (Ujian Masuk Bersama) PTN hanya sekitar 20 persen, selebihnya anak-anak dari luar Aceh. Hal sama juga diamati pada SNMPT, hampir, semua fakultas favorit yang di Unsyiah, misal, masih didominasi anak-anak yang berasal dari SMA di luar Aceh. Maka sekarang marilah bertanya, mana itu produk sekolah unggulan, sekolah mandiri, sekolah reguler favorit yang selama ini kita dongengkan. Apalagi, kita pun sudah berbangga-bangga bahwa Aceh lulus 90 persen Ujian Nasional (UN). Namun jangankan bisa menerobos ke luar, melewati “besitang” (nama daerah perbatasan Sumatera Utara) saja belum bisa, bahkan anak-anak lulus SMA Aceh tersisih di kandangnya sendiri. Tentu, saya tak menafikan bahwa ada satu-dua yang lulus karena memang unggul, atau ada juga yang diketahui lulus SMPNT meskipun anak bodoh, tapi ada factor “X” yang mengawalnya di belakang sehingga bisa lulus. Dan itu kita anggap “kelainan”.

Bias pandang atas eksistensi pendidikan di Aceh selama ini sebagai kesalahan kolektif yang mesti disadari para pengelola pendidikan. Ironi, kebobrokan mutu ajar justru terjadi ketika daerah ini sudah pulih dari konflik dan bencana; terjadi ketika uang yang dialokasikan untuk sector pendidikan melimpah ruah. Tentu ada yang stagnan, karena kelulusan UN 2009 yang melebihi 90 persen, ternyata sama sekali tidak berkorelasi dengan tingkat kelulusan siswa di SNMPT, bahkan rangkin kelulusan secara nasional berada di urutan corot.

Kadang saya suka berpikir nakal, sehingga menduga tingginya kelulusan UN--boleh jadi sebagai rekayasa untuk menunjukkan suatu prestise atau biar dilihat “kita hebat” atau ada ungkapan sebagai menjaga “marwah bangsa”. Maka berbagai cara pun bisa dilakukan. Inilah penyakit menahun yang makin akut menjadi endemi di negeri kita, diidap para pejabat atau mereka yang diberi amanah oleh kita rakyat biasa ini.

Ada benarnya ngocehan Sayuthi, ketua Kobar GB (guru bersatu) Aceh dalam forum seminar yang dihadiri seribuan guru di gedung sosial Aceh, beberapa waktu lalu. Katanya, guru-guru dikerahkan untuk membantu jawaban anak-anak ketika UN, itu sama saja menistakan kedaulatan kaum guru. Dan untuk apa UN karena sama saja telah menggiring untuk mengajarkan anak-anak menjadi malas, akhirnya menciptakan generasi bangsa pengemis. “Kenapa tidak, anak-anak tak perlu susah-susah, toh akhirnya ketika UN akan dibantu guru yang dikerahkan secara sistemis oleh lembaga,” ujarnya. Jika benar apa yang diungkapkannya itu, maka betul pula asumsi Anas M Adam, yang menulis (opini Serambi, Mai 2009) bahwa sebenarnya yang sangat takut UN adalah kepala dinas, kepala sekolah, atau guru, karena mereka bisa dikritik masyarakat atau hilang jabatan.

Mengamati realitas saat ini, mutu pendidikan Aceh ibarat dongeng pengantar tidur untuk bisa bermimpi-mimpi. Hirarki dalam kelembagaan pendidikan cenderung melanggengkan sikap feodal, telah menumbuhkan sikap aristokrat daripada sikap demokrat. Di bawah hegemoni kekuasaan sistem pendidikan telah melahirkan para ‘agen intelektual’ atau commissars , menurut Noam Chomsky, yang hidupnya bergantung dan caranya melayani kepentingan atau memenuhi kebutuhan penguasa. Tugas para ‘agen intelektual adalah mereproduksi pengetahuan atau kebenaran para penguasa

Masih panjang sebenarnya rentetan kritik dan analisis yang memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan dari sistem pendidikan Aceh saat ini. Sayangnya, bagi kaum skeptis sudah jelas bahwa ketika kritik muncul maka hanya menjadi penunggu tong sampah. Artinya penyelenggara pendidikan formal telah mengabaikan kehendak masyarakat. Tidak berlebihan kalau kemudian masyarakat yang merasa diabaikan, karena Negara telah gagal memberikan pelayanan pendidikan tebaik bagi masyarakatnya.

Sejatinya pendidikan yang berfungsi untuk mencerdaskan anak bangsa, namun dikotori dengan berbagai intrik dan kehendak politik dimana-mana. Akhirnya, kebobrokan atas pendidikan bagaikan kentut yang tak berbunyi dan tak berbentuk namun baunya menyengat kemana-mana. Maka kita akan menyaksikan generasi bangsa Aceh sedang menuju lorong kelam yang sesak dongeng atmosfer kebangkitan dalam mimpi.

LIDAH TAK BERTUAN

Meupat cukop bahaya
Kadang le babah hana di sengaja
Beek tapajoh asoe syedara
Beek tapegah yang sia-sia
Beunatapike sigolom peutubiet
Ibarat manok jiplueng lam rimba
Behati-hati bak peuleuh narit

Bek that biet-biet bak canda ria
Lidah yang lipeeh sang lagee padee
Walau ubeut pih that meuguna
Dengeu ngen pinyueng bek deunge ngen hate

Geutanyoe mate dalam peusuna
Di dalam babah asoe dikawee
Diduek di dalam awak durjana
Peujuoh heeut yang jeut keu pakee
Geutanyoe sare tamesyedara

Sigalom tapike ke naseeb insan
Dengan lidah geutanyoe pike
Bek tapeu a’jeeb bak aib taulan
Bek tapeu umpang bak tameupake
Manusia necipta lee Tuhan

Bek salah su dengan syaidara
Babah mesilat han ek talawan
Kadang saboh su jitueubit ulua
Tapeugah haba ngen ureung careung
Lee mamfaat yang geepekeulua

Haba nasehat yang betoi menteng
Nyak metamah nafsu mesyedara
Beujut keubut oh rayek gata
Beuna ta jaga maruwah di raja
Dalam islam getanyo jaga

Lidah ngen haba peuduk sebanja
Ken nan ureung yang hana tuseo droe
dalam donya nyoe geutanyoe jaga
Oreung yang muesue kadang hana thee droe

Jak pegah kegop dilikot mata
Salah tutoe ngen lidah han glah
Lagee luka ka keuneng sira
Kadang na narit yang lupah pegah
Bek salah babah bak di kelua
Lidah bak muka meukumat di babah
Mesee yang han glah di sinan ta cuci
Beu tapejeuoh hai lidah metuah
Beuna ta pemada ngen kalam yang suci

pelantikan DPRA ACEH

KEMARIN, Rabul (30/09/2009) anggota DPRA hasil Pemilu tanggal 9 April 2009 dilantik Mendagri atasnama Presiden RI. Peraih suara mayoritas adalah Partai Aceh (PA). Partai lokal lainnya seperti Partai PAAS, SIRA, PRA, PBA, dan PDA kalah telak. Mereka semua ikhlas menghormati kehendak rakyat Aceh sebagaimana adanya. Partai Aceh (PA) meraih suara hampir 50 persen kursi, atau 33 kursi dari 69 kursi DPRA yang diperebutkan. Selebihnya suara diraih oleh partai nasional, seperti partai Demokrat 10 kursi, Golkar 8 kursi, PAN 5 kursi, PKS 4 kursi, PPP 4 kursi, PKPI 1 kursi, Patriot 1 kursi, PBB 1 kursi, PKB 1 kursi, dan satu lagi partai lokal (PDA) memperoleh 1 kursi. Yang terpilih adalah yang terbaik untuk diserahkan amanah. Yang terpilih bukanlah matarantai yang terputus. Mereka bagian dari pejuang perdamaian, juga bagian integral dari lintasan sejarah perjuangan rakyat Aceh.

Gendrang Pemilu legislatif sudah usai ditabuh. Gendrang itu sudah berbunyi dengan irama yang cukup demokratis, tanpa ada yang terluka, khususnya di Aceh. KIP Aceh pantas diacungkan jempol. Kalaupun ada yang khilaf di sana-sini, bak piring retak dalam pesta akbar, semuanya sudah diluruskan kembali oleh Mahkamah Konstitusi. Maka tepat, kita anggap pelantikan anggota DPRA kemarin, sebagai hari pertamal ditiupkan “sangkakala kehidupan kembali untuk pembangunan Aceh” yang sudah lama terkubur di alam barzah politik Orde Baru. Penanda era yaumul hisap yang adil, yang arif dalam bertindak, yang bijak dalam memimpin. Karenanya, pimpinlah kami menuju jalan ke surga dunia yang aman, damai, dan sejahtera. Jangan lagi kami ini dipaksa ke jalan yang salah, akhirnya membuat dunia ini menjadi neraka jahannam yang penuh azab dan penderitaan.

Lihatlah, kilas balik sistem yang sia-sia dan menyesali kita semua; Dulu ada yang menyebut demokrasi terpimpin itu benar, tapi akhirnya tidak benar juga. Dulu ada yang bilang demokrasi liberal itu yang terbaik, tapi kemudian juga dihapuskan. Dulu, kita semua dihalau ke ruang kelas penataran P4, katanya demi demokrasi Pancasila, demi perikemanusiaan yang adil dan beradab, tetapi kemudian P4 dihapuskan, dan pada era itu di negeri ini terjadi pertumpahan darah di mana-mana, teror dan pembantaian tak pernah mereda. Bukan hanya di Aceh, juga di Poso, di Ambon, di Papua, dan di Jawa sendiri muncul pemberontakan yang dipimpin oleh Kartosuwiryo pada tahun 1953.

Itu sebab, pelantikan DPR Aceh kali ini sangat bergema. Gema itu pasti sangat amat keras, dan kami yakin bunyinya pasti terdengar hingga ke Swedia, ke Helsinki, ke seluruh negara anggota Uni Eropa, ke Arab Saudi, Timur Tengah, Libiya, Australia, Amerika, dan juga bergetar di tanah jiran kita Malaysia. Mengapa? Karena ada suatu yang besar di sana, ada pengaruh yang mendunia pada peristiwa itu, dan karena yang dilantik itu, sebagian besar adalah para pelaku sejarah (pembawa perubahan) besar, hampir sama dengan “baby boom” yang disebut anak-anak veteran pejuang perang oleh JF. Kennedy.

Gema dan peristiwa menggetarkan ini, pernah terjadi ketika pelantikan Abraham Lincoln dan John F. Kennedy tempo dulu, seperti yang disebut oleh John A. Barnes, penulis buku John F. Kennedy On Leadership,2007). Katanya, kedua mantan presiden negeri adidaya itu memang tokoh-tokoh terkenal di pentas politik dunia, baik di kawasan Eropa maupun di anak benua lainnya. Nama-nama besar itu, setiap saat memang ditunggu oleh masa sebagai anak zaman, juga ditunggu oleh media karena simbol pembawa perubahan besar. Kata Barnes lagi, walaupun undangan informasi itu dipikulkan di punggung kuda yang mengantar ke pelosok negeri, hatta harus menyeberangi sungai dan danau yang luas dengan kapal tongkang untuk menyampaikan berita ini. Orang-orang pasti tersentak untuk mengikutinya. Apalagi waktu pelantikan presiden Barack Obama di abad 21 ini, abad globalisasi, melalui rekayasa teknologi informasi yang cukup canggih seperti TV, Radio, internet, surat kabar dalam dan luar negeri akan menghentak umat manusia untuk ikut terlibat menyaksikan upacara yang paling bersejarah itu. Tak usah heran, jika petani gandum di Berlin pun bisa ikut mendengar, menonton, dan melibatkan emosi nya secara serentak bersama-sama dengan saudaranya yang tinggal di Mahe’eng (sebuah desa kumuh yang sangat tertinggal namun disayangi oleh Tgk. Irwandi Yusuf sebelum menjadi Gubernur Aceh).

Mengapa ilustrasi DPRA kali ini begitu hebat? Karena ada sesuatu yang kita tunggu-tunggu, yaitu suatu perubahan yang mendasar dalam segala bidang kehidupan di Aceh. Bukan kita yang rakyat saja, tapi gubernur Irwandi pun begitu antusias menanti tibanya hari bagi yang terpilih. Meskipun pelantikan sudah di ujung tahun, tapi masih banyak yang bisa dikerjakan DPRA bersama pemerintah Aceh untuk dua tahun ke depan. Momentum pembahasan RAPBA tahun 2010, RAPBA tahun 2011 dan mungkin juga RAPBA tahun 2012. Mulailah dengan karya-karya besar yang monumental.

Kemajuan yang teungku lihat masa dahulu ketika teungku-teungku di pengasingan di Eropa, Amerika, Australia, Malaysia, Singapura, Timur Tengah, Libya, dan lian-lain, rakyat Aceh meminta teungku wujudkan di sini. Misalnya, pembangunan infrastruktur yang hebat, jaminan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, pembangunan ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup dan pendapatan, bantuan sosial untuk anak-anak veteran perang, fakir miskin dan anak terlantar, serta pelaksanaan syari’at Islam dengan cara yang sebaik-baiknya. Harapan kami, mulailah dengan mempersiapkan keluarga anda, relasi dan koneksi anda, agar mereka selalu berdoa dan banyak membantu, bersikap sabar dan kana’ah, serta tidak berharap kaya mendadak. Rakyat pasti gembira, berdo’a dan juga membantu anda, sambil menunggu lahirnya karya besar anda dalam dua tahun pertama ini. Pelantikan teungku-teungku yang terpilih, anggaplah “seurunee kalee umat” yang mengisyaratkan akan terjadi perubahan besar di Aceh. Berikanlah keadilan, kesamaan, dan kesetaraan untuk semua warga, dan katakan keistimewaan itu tidak untuk siapa siapa.

Dan kado kami ini, adalah tanda rasa bahagia, ucapan selamat untuk mulai bekerja. Rakyat tahu beban tugas dan tanggungjawab Anda semakin berat. Banyak hari-hari untuk keluarga akan tersita, banyak telpon dari sahabat yang anda jawab dengan kata maaf saya lagi rapat. Tapi betapapun anda sibuk, jangan dilupakan juga anda akan kembali menjadi pelajar yang serius membaca segala aturan, penulis pidato anda sendiri, perumus pendapat dan aspirasi daerah pemilihan yang anda wakili, dan menjadi pejuang kebijakan baru untuk skala Aceh. Kalau ada staf ahli hanyalah membantu anda, dan tidak lebih dari itu. Staf ahli tidak diharapkan oleh pemilih anda untuk bertanggungjawab pada apa yang anda perjuangankan sebagai senator atau anggota parlemen Aceh. Tapi kehadiran staf ahli itu sangat penting untuk membantu anda; kata Theodore Sorensen, ketua tim penulis naskah pidato presiden JF.Kennedy yang dikagumi kehebatannya hingga saat ini.

Hanya sedikit imbalan materi (kalau ada) yang bisa anda peroleh berupa gaji, honor, uang representatif, tunjangan kesehatan, dan lain-lain yang anda terima. Dikatakan sedikit dibandingkan dengan nilai perubahan besar, gagasan besar, kebijakan pembangunan yang besar yang anda perjuangan, jika itu ada. Imbalan yang sedikit itu pun harus anda berbagi lagi dengan partai yang mencalonkan anda. Jangankan berharap bisa anda sumbangkan uang kepada rakyat, para pemilih anda sekalipun, untuk anak dan keluarga anda sendiri antara ada dan tidak ada. Kecuali anda merobah karakter dari mental politisi pejuang berkualitas tinggi, jujur dan amanah, menjadi politisi berkualitas rendah, bermoral hazard, tamak, penjilat proyek atau pemburu uang dan harta selagi ada kesempatan. Maha Besar kasih sayang Allah Swt, kami do’akan semoga anda semua Allah lindungi dari sifat-sifat tercela.

Rakyat berharap agar anda merumuskan kebijakan, aturan, Qanun, dan pendapat-pendapat anda yang mensejahterakan kami dan anak-anak kami di negeri ini. Bagaimana caranya; kami coba kutip pesan mantan presiden Amerika, John F Kennedy kepada politisi, utamanya kepada kaum “baby boom” untuk selalu berusaha dengan sungguh-sungguh mendapatkan idea-idea baru dari keluarga anda, sahabat sahabat anda, para penasehat anda, tim ahli anda, dan juga pembantu anda, baik melalui jalur formal maupun informal. Kita juga harus memiliki jaringan dengan orang yang sukses, atau yang memiliki kiat dan cerita sukses (Sucses Story) para pemimpin pemerintahan, politisi, atau birokrat profesional dahulu yang mengantarkan kemajuan bagi suatu bangsa yang telah maju, baik pada skala nasional maupun global.

Mungkin, pengalaman pergaulan dengan masyarakat dunia pasca musibah gempa bumi dan tsunami, ketika bangsa-bansa di dunia datang membantu Aceh, hikmah pergaulan itu cukup membantu kita untuk membuka jalan baru agar Aceh memasuki arena pergaulan dunia internasional. Baby boom, adalah istilah Kennedy untuk kawan-kawan generasinya (anak-anak mereka) yang dilahirkan dan dibesarkan dalam kancah perang, kemudian pada hari ini, dalam masa damai, mereka telah menjadi pemimpin pemerintahan atas dasar pilihan rakyat yang sah. Kennedy sendiri cukup dikenal rasa bangganya atas predikat sebagai anak pahlawan-pejuang perang dan membangun reputasi dirinya, bahwa ia dan keluarganya, meskipun kaya raya, tetapi dididik untuk tidak boleh menghindari perang demi membela tanah air dan kehormatan bangsanya. Inspirasi itu, perlu juga kita bangun di Aceh. Semangat tidak melarikan diri dari kewajiban dan tanggungjawab perang, harus tetap hidup meski hari ini Aceh dalam suasana damai.

Rakyat tidak banyak menuntut. Mereka meminta kebijakan yang terumuskan dalam Qanun Aceh, yang isinya menjanjikan rahmat dan kesejahteraan, kehidupan yang adil dan damai. Tersedianya fasilitas dan sarana untuk dapat hidup sejahtera, adanya infrastruktur yang berkualitas terbaik, layanan pendidikan dan kesehatan yang murah dan berkulitas tinggi, ekonomi rakyat yang makin mempertinggi taraf hidup, bantuan sosial yang bermartabat, serta tegaknya syariat Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin. Seperti amanat anggaran Otsus dan TDBH Migas.

Kalau mau dibuka kembali dokumen staf ahli Gubernur, di sana ada usulan (alm) Prof. Dr. Abdullah Ali, MSc (mantan Rektor Unsyiah) yang dikirim kepada BRR. Beliau meminta BRR agar di samping membangun perumahan untuk rakyat yang sangat mendesak, juga diharapkan agar BRR tidak boleh lupa membangun beberapa hal penting dan strategis untuk rakyat Aceh seperti; membangun irigasi modern, karena 80 % lebih rakyat Aceh hidup sebagai petani di sawah. Berikutnya jaringan air bersih (PAM) yang sehat, karena Aceh memiliki beberapa sungai besar yang memungkinkan persedian debet air yang cukup. Pusat pembangkit energi listrik (PLTA, PLTU, PLTD) sehingga krisis energi listrik di Aceh sejak Indonesia merdeka dapat segera diatasi. Berikutnya sarana dan jaringan tranportasi modern bertaraf dunia yang meliputi darat, laut dan udara untuk mendukung aktivitas ekonomi rakyat lintas kab/kota, lintas provinsi, dan juga lintas negara. Apakah mungkin ?, rakyat biasa masih yakin dan percaya kepada anda yang terpilih.KITA lihat untuk kedepan...............

Sabtu, 26 September 2009

AAF AKAN BEROPERASIONAL KEMBALI




















asalam mualaikum .........
baru-baru ini aceh utara mempunyai kabar gembira yaitu akan di buka nya kembali PABRIK PUPUK AAF yang telah tidak lagi berproduksi....kemungkina pabrik ini akan di operasikan kembali oleh konsorsium asal CINA....
Mengapa tidak............dimana kerja keras oleh oleh para2 tim likuidator ini ternyata berbuah emas...Tim yang di pimpim oleh MARWAN YAHYA ini berhasil membuka peluang EKONOMI bagi masyarakat DEWANTARA khusus nya dan ACEH UTARA umum nya.....

Supporting Likuidator PT AAF, Marwan Yahya mengatakan, konsorsium China melalui PT Bumi Persada Lestari, telah memenangkan tender PT AAF, pada 18 Agustus 2006 lalu dengan harga Rp 509,6 milyar. Investor itu akan segera membangun kembali PT AAF setelah ada keputusan dari pemerintah Indonesia terhadap hasil tender.

Menurut Marwan, investasi yang akan ditanamkan pada pabrik eks PT AAF mencapai Rp 5 triliun, sebanyak Rp 2 triliun diantaranya dikhususkan untuk pengembangan pada berbagai proyek.

"Pihak konsorsium China juga akan membangun pabrik gasifikasi untuk mengolah batu bara menjadi gas sebagai bahan baku utama produksi dan energi pabrik. Sedangkan mesin-mesin yang ada sekarang akan dirombak sekitar 70 persen lebih, karena kondisinya tidak layak pakai," ujar Marwan.

Perusahaan tersebut juga akan membangun pembangkit listrik dari batu bara, dengan kapasitas 30 MW. Dari kapasitas itu, yang akan dipakai untuk perusahaan sebesar 15 MW, sementara sisanya merupakan alternatif bekerjasama dengan PLN dalam upaya menanggulangi kekurangan arus listrik di daerah.

"Jika pemerintah pusat dapat segera menyetujui penjualan AAF kepada konsorsium ini, sesuai hasil tender yang telah dilaksanakan, roda ekonomi di daerah ini akan segera berputar kembali. Tenaga kerja akan tertampung, kontraktor, vendor, pengusaha, perdagangan dan jasa akan bergeliat lagi," cetus Marwan.

sementara dari
satu sisi..masyarakat sekitar pun sangat antusias dalam mendukung kehidupan pabrik pupuk ini....

Setelah pabrik tersebut berpindah tangan dari pemegang saham sebelumnya (negara-negara Asean), itulah yang kemudian menjadi dasar bagi konsorsium asal Cina untuk berinvestasi dan menghidupkan kembali perusahaan itu.

Kepastian akan adanya investor asing yang akan mengelola PT AAF disampaikan Djohan Unggul mewakili konsorsium asal Cina ketika melakukan pertemuan dengan Muspida Plus Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe di pendapa Bupati Aceh Utara, Rabu (14/11).

Dalam pertemuan itu, Djohan Unggul mengaku optimis akan berhasil menghidupkan kembali perusahaan itu dalam tempo enam bulan. Namun, untuk menghidupkan kembali perusahaan yang telah lama tidak beraktivitas itu, harus mengganti berbagai peralatan yang telah karatan.

Investasi keseluruhan, menurut Djohan Unggul mencapai 450 juta dollar atau jika diasumsikan dengan dollar Rp 9.200, mencapai Rp 4,1 triliun.

Selama ini, lanjut Djohan, PT AAF merupakan perusahaan yang menggantungkan hidup dari bahan baku gas. Untuk selanjutnya, pihak investor akan menggantikan teknologi gas dengan bahan baku batu bara. “Kalau program ini berhasil, berarti di Indonesia merupakan perusahaan pertama peralihan dari gas ke batubara,” kata Djohan KEPADA KAMI SAAT BINCANG2.

Dalam pertemuan sebelumnya, Djohan juga mengatakan, konsorsium Cina sangat yakin dengan penanaman modal di Aceh, karena kondisi Aceh yang terus membaik.

Djohan mencontohkan, dua tahun silam, lalu-lalang kendaraan di jalan raya sangat jarang, seperti di jalur Medan-Aceh. Tetapi kini, kondisi jalan sangat padat bahkan jalan masuk ke Kota Lhokseumawe macet. “Ini menjadi indikasi bahwa perekonomian Aceh berangsur pulih. Begitu juga keamanan, tak ada keraguan lagi,” ujarnya.

Marwan Yahya, seorang staf penting di PT AAF yang termasuk anggota tim menghidupkan kembali PT AAF mengatakan, pihak konsorsium akan membangun pabrik gasifikasi untuk pengolahan batu bara menjadi gas sebagai bahan baku utama produksi. Hal lain yang dilakukan adalah perombakan mesin sekitar 70 persen karena sudah tidak layak pakai.


APA KAH NASIB BAIK DAN JUGA KERJA KERAS TIM TA 2009 INI DAPAT MENGEMBALIKAN ACEH UTARA.....


WASALAM ..
by FIRMAN SAPUTRA bin ILYAS