Sesungguhnya seorang hamba jika ia melakukan kesalahan, maka akan tercemari hatinya dengan satu bercak hitam. Jika ia menghentikan kesalahannya dan beristighfar serta bertaubat, maka hatinya menjadi bersih lagi” (HR. Imam Turmudzi dan Imam Ahmad). Umumnya kesalahan kecil kerap diabaikan, meskipun kerap dilakukan dalam perjalanan waktu siang dan malam. Padahal kesalahan kecil yang sering dilakukan akan menjadi besar, sehingga perlahan sampai ke leher dan menenggelamkan pelakunya.
Makanya sungguh agung Islam, yang senantiasa mengajak manusia untuk selalu beristighfar. Yaitu, memohon ampun kepada Allah, agar diampuni dosa-dosa, termasuk dosa-dosa yang kerap terabaikan. Apalagi Allah Maha penerima taubat, sebagaimana dikatakan dalam al-Qur’an, “Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima taubat hamba-hambanyaNya” (QS. At-Taubah: 104).
Rasulullah juga mengatakan, Allah membuka tanganNya di waktu malam, agar bertaubat orang yang bersalah di siang hari, dan membuka tanganNya di waktu siang agar bertaubat orang yang bersalah (berdosa) di malam hari, sampai terbit matahari dari sebelah barat (HR. Imam Muslim). Ini menandakan, pintu taubat itu akan tertutup pada saatnya. Bagi individu, yaitu saat umurnya sudah berakhir. Sedangkan bagi manusia secara keseluruhan, saat umur dunia sudah tamat. Namun, istighfar mensyaratkan konsistensi atau keselarasan. Maksudnya, selaras antara ucapan istighfar dengan perbuatan, yaitu sama-sama menuju harapan mendapatkan ampunan Allah. Semoga kita selalu menyempatkan diri untuk beristighfar setiap hari.
Kamis, 01 Oktober 2009
Langganan:
Postingan (Atom)

